SAMBAS, SFN – Seorang wartawan media online berinisial MRN diduga mengalami tindakan intimidasi dan penganiayaan saat menjalankan tugas jurnalistik di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (30/7/2026). Peristiwa tersebut terjadi saat korban hendak melakukan konfirmasi terkait proyek pembangunan rabat beton Tahun Anggaran 2025 di Dusun Pimpinan, Desa Pipit Teja, Kecamatan Teluk Keramat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan penganiayaan terjadi di kediaman seorang pelaksana proyek berinisial YNT. MRN menjelaskan bahwa kedatangannya bertujuan untuk meminta klarifikasi terkait proyek yang sebelumnya sempat diberitakan oleh media tempatnya bekerja.
"Sebelumnya saya sudah mengonfirmasi kepada Kepala Desa Pipit Teja, dan dari pihak kepala desa saya diarahkan untuk mengonfirmasi langsung kepada pelaksana proyek, yaitu YNT," ujar MRN kepada wartawan.
Namun, menurut MRN, setibanya di lokasi, ia justru mendapat perlakuan kasar dari terduga pelaku. MRN mengaku sempat dipiting, dicekik, dan dipukul sebanyak dua kali di bagian tangan. Lantaran merasa terancam dan tidak aman untuk kembali ke rumah, MRN memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Sambas guna memohon perlindungan hukum.
DPD AKPERSI Kalbar Siapkan Bantuan Hukum
Menanggapi insiden tersebut, Ketua DPD Asosiasi Wartawan Pemerhati Reformasi Indonesia (AKPERSI) Kalimantan Barat, Syafarahman, mengecam keras dugaan intimidasi dan kekerasan yang menimpa anggotanya. Pihaknya mendesak aparat kepolisian untuk segera memproses laporan korban secara transparan dan profesional.
"Kami mengecam tindakan intimidasi terhadap wartawan. Kami mendesak Polres Sambas untuk bergerak cepat dan serius menangani kasus ini. DPD AKPERSI Kalbar siap menurunkan Tim Pendamping Hukum untuk mengawal proses hukum hingga tuntas," tegas Syafarahman.
Ia juga menambahkan agar pihak berwenang turut memeriksa dugaan penyimpangan mutu pekerjaan proyek yang menjadi pemicu awal konflik tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, YNT belum memberikan keterangan atau klarifikasi resmi mengenai dugaan peristiwa tersebut. Redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak bersangkutan untuk mendapatkan tanggapan berimbang.(Tim/Red)
