Advertisement
![]() |
| Istri almarhum, Kiki Tresia (30) |
BINJAI, SFN – Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Rasdi Fauzi (39) di Gang Nenas I, Kelurahan Sukaramai, Binjai Barat. Hingga Selasa (05/05/2026), pihak keluarga masih menanti kepastian pemulangan jenazah Rasdi yang dilaporkan meninggal dunia di sebuah mes tempatnya bekerja di Poipet, Kamboja, pada Minggu (03/05/2026).
Istri almarhum, Kiki Tresia (30), mengungkapkan kekhawatirannya karena hingga hari ketiga pasca-meninggalnya sang suami, jasad Rasdi dikabarkan masih tertahan di kamar mes tanpa penanganan medis maupun pemulasaraan yang layak.
“Harapan saya kepada Pemerintah Indonesia, terkhusus Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Sumatera Utara, Bapak Bobby Nasution, tolong bantu pulangkan jenazah suami saya,” ujar Kiki dengan isak tangis saat ditemui di rumah kontrakaannya, Selasa (05/05/2026).
Kronologi Kejadian
Rasdi Fauzi berangkat ke Kamboja pada Februari 2025 untuk bekerja di sektor digital (diduga scamming) demi menopang ekonomi keluarga setelah kontrak kerjanya sebagai sales di Binjai berakhir.
Berdasarkan keterangan rekan kerja almarhum, kondisi kesehatan Rasdi menurun drastis akibat tekanan mental dan beban kerja. Almarhum diduga mengalami serangan jantung akibat asam lambung akut setelah mengonsumsi kopi instan secara berlebihan dalam kondisi perut kosong.
Foto terakhir yang diterima keluarga menunjukkan kondisi jenazah yang sudah membiru, memperkuat dugaan serangan jantung fatal.
Kendala Pemulangan dan Birokrasi
Pihak keluarga mengaku merasa kesulitan menembus birokrasi pemulangan jenazah. Kiki menyebutkan bahwa komunikasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja belum memberikan hasil yang pasti.
“Kami terus hubungi KBRI, tapi jawabannya hanya diminta tunggu proses polisi. Kami seperti dibola-bola. Kami hanya orang kecil, kami tidak punya biaya ratusan juta untuk memulangkan jenazah secara mandiri,” keluh Kiki.
Kekhawatiran keluarga didasari pada pengalaman pekerja migran lain yang harus mengeluarkan biaya hingga Rp160 juta dan waktu tunggu lebih dari satu bulan untuk proses repatriasi jenazah dari Kamboja.
Pesan untuk Pemerintah
Keluarga berharap pemerintah dapat segera melakukan intervensi diplomatik dan memberikan bantuan finansial guna memulangkan jenazah Rasdi agar dapat dimakamkan secara layak sesuai syariat Islam di tanah kelahirannya, Binjai.
“Kami hanya ingin tahu di mana letak pusaranya di tanah air sendiri. Tolong pulangkan dia agar kami bisa memberikan penghormatan terakhir,” pungkas Kiki.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih melakukan tahlilan di rumah duka sembari menunggu respons resmi dari otoritas terkait mengenai prosedur evakuasi dan pemulangan jenazah dari Poipet ke Indonesia.(Red)

